| SwaBisnis.Net | Profil | Toko Online | Iklan |
|---|
|
http://www.swabisnis.8m.com | ![]() |
|
Dr. Yahya A. Muhaimin (Mendiknas) "Berusaha Tidak Mengubah Kurikulum" Laporan Khusus - Dr. Yahya A. Muhaimin adalah Dosen Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Pernah menjabat Pembantu Dekan bidang Akademik, Fakultas Ilmu Sosoal dan Ilmu Politik , UGM. Namanya pernah dimasukan ke dalam 'Apa dan siapa sejumlah orang Indonesia 1985-1986' yang diterbitkan oleh majalah TEMPO. Pengalamannya dalam bidang pendidikan juga dilalainya sebagai Ketua Majelis Pendidikan Tinggi (1990-1995), Koordinator Pendidikan (1995) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sejumlah beasiswa pernah diterima beliau antara lain dari Rockefeller Foundation (1977-1982), Fellowship dari Japan Foundation untuk menjadi peneliti pada University of Tokyo (1989), Fellowship dari Monbusho untuk menjadi peneliti pada Nagoya University (1994). "Dua profesi yang tidak diinginkan semasa kecil, yaitu; Guru dan Tentara," hal tersebut disampaikan Dr. Yahya Muhaimin, dalam Pidato pertamanya sebagai Menteri Pendidikan Nasional (dulu Mendikbud-red.), pada acara serah terima jabatan Menteri Pendidikan Nasional, Senin (1/11). Alasan laki-laki kelahiran Bumiayu, 17 Mei 1948 ini, karena profesi guru kurang dihargai murid. Oleh karena itu menurutnya sejalan dengan meningkatnya anggaran pendidikan, maka kesejahteraan guru harus ditingkatkan. Pandangannya mengenai hal mendasar yang perlu segera dilaksanakan, yaitu program yang mendukung pelaksanaan fungsi pendidikan secara sehat. Pada kesempatan itu, Mendiknas menyatakan hal yang mendesak dan perlu ditingkatkan adalah perhatian pemerintah terhadap nasib guru pada tingkat sekolah dasar dan menengah. Dr. Yahya Muhaimin yang menggantikan Prof. Dr. Juwono Sudarsono, dalam pidatonya juga menyatakan siap diberitahu bila ada pelayanan yang kurang baik. Harapannya, bila ada masalah di departemennya, bisa diselesaikan dengan saling berkomunikasi. Selain itu Yahya akan menerapkan check dan recheck ada maupun tidak ada masalah. Visi Alumni 1970, Fakultas Sosial dan Politik, UGM ini, dalam tugasnya sebagai Mendiknas, yaitu ; Pertama, memperkuat pendidikan dasar dan menengah dengan ilmu-ilmu dasar. "saya ingin Anak-anak SD mempunyai konsep dasar mengenai lmu-ilmu dasar, karena nanti di SMP dan SMA atau PT, dia lebih lancar dalam Fisika maupun Kimia," harapnya. Kedua, masalah tingkah laku anak, etika dan moral. "Karena saya lihat di negara yang maju seperti Amerika Serikat atau di Jepang, anak-anak sangat menghargai gurunya dan orang tuanya," ujar Yahya. Dalam masalah tingkah laku ini peranan orang tua sangat penting. Oleh karena itu Yahya menghimbau kepada BP3 agar peranan BP3 lebih diberdayakan. "Kita ingin usahakan satu mekanisme sosial agar anak-anak bisa terawasi," lanjutnya. Ketiga, masalah baca tulis. "Anak-anak tulisannya seperti ceker ayam," ungkapnya. Selain itu menurut penerima penghargaan 'Asia-Pacific Security Study Tour' dari Departemen Luar Negeri Amerika serikat, anak-anak menurutnya tidak mempunyai culture membaca secara baik. Berkaitan dengan image masyarakat 'ganti menteri-ganti kurikulum', Yahya yang mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan pada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington D.C. Amerika Serikat mengatakan dirinya tidak akan mengubah kurikulum. "Mudah-mudahan tidak, Saya akan berusaha tidak akan mengubah kurikulum," ungkapnya. Peningkatan kualitas pendidikan nasional akan diupayakan melalui pemberdayaan guru terutama pada tingkat dasar dan menengah secara optimal. Mendiknas juga menjanjikan akan mempelajari aturan pelarangan warga negara Indonesia mengikuti pendidikan di sekolah internasional yang ada di Indonesia. Aturan tersebut tidak lagi sesuai dengan semangat globalisasi. "Nanti akan dilihat dulu kemampuan kita, kualitas maupun kuantitasnya," ujarnya. Ketika ditanya tentang devisa yang terbuang cukup besar untuk pendidikan keluar negeri, Dr.Yahya A.Muhaimin hanya menjanjikan bahwa dia akan mempelajarinya. "Nantilah saya pelajari dulu, karena saya juga produk luar," ungkap Alumni 1982, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Cambridge, Amerika Serikat, sambil tertawa. optimal.
|
|