|
|
WAHAB : (PEMILIK KIOS SAMI RASA MILO)
UANG BUKANLAH MODAL UTAMA DALAM BERBISNIS

Laporan Khusus - Bandung selain dikenal sebagai kota kembang dan kota wisata,dikenal pula dengan oleh-olehnya. . Aneka jenis makanan yang menjadi ciri khas Bandung seperti gorengan tempe, oncom, peuyeum Bandung selalu dicari orang yang singgah ke Bandung. Salah satu toko penjual makanan khas Bandung yang berhasil ditemui team Swa Bisnis adalah Sami Rasa Milo. Menurut sang pemilik, Bapak Wahab (45 th), usahanya mulai dirintis sejak sepuluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 1990. Sebelum berjualan tempe goreng, Wahab yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 3 SD mulai memberanikan diri berjualan buah-buahan. Saat itu ia pernah mengalami kejadian pahit. Pasalnya ketika berjualan ia terkena penertiban penjual kaki lima oleh aparat ketertiban umum (Tibum). “Selain dagangan saya habis, saya pun sempat kena tendangan petugas ketertiban”, tutur Wahab kepada SWA Bisnis. Setelah satu setengah tahun, usaha yang digelutinya tidak memberikan hasil yang memuaskan, ia mengganti usahanya dengan berjualan pakaian. Seperti semula, usaha pakaian pun kandas di tengah jalan, sampai akhirnya pak Wahab bekerja di sebuah perusahaan keripik singkong milik pak Budiman. Selama bekerja terlintas keinginannya untuk bisa mengikuti jejak pak Budiman,
Tahun 1990 dengan modal 250 ribu rupiah, Wahab mulai berjualan gorengan tempe. Waktu itu, uang sebesar 250 ribu rupiah hanya cukup untuk membeli sepetak lapak (lahan) di daerah Kosambi dengan sistem hak guna pakai. Bagi Wahab, uang tidaklah menjadi jaminan keberhasilan dalam merintis usahanya. Dengan bermodalkan kepercayaan dari para pedagang tempe, minyak, tepung dll, Wahab mulai meminjam bahan-bahan tersebut dan pembayaran dilakukan sore hari. Usaha kecil-kecilan ini dirintisnya bersama Tuti sang istri dibantu beberapa saudaranya. Satu minggu setelah berjualan, pedagang lain pun mulai melirik dan berminat untuk menitipkan barang dagangan mereka berupa oleh-oleh khas Bandung.
Selain tempe goreng, jenis-jenis makanan yang dijual kios Sami Rasa Milo diantaranya keripik (singkong, talas, kentang, kulit, pisang), dodol, pisang sale, manisan, rangginang, kue - kue kering, kue basah dll. Harga setiap makanan tentunya cukup bervariatif antara Rp. 4000 hingga Rp. 50.000. Keuntungan yang diperoleh dari setiap produk makanan yang titipan antara 15-20%.
Barang-barang tersebut dikirim pemasok dari berbagai daerah. Misalnya Dodol dari Garut, keripik dari Tasik, Sale dari Sumedang, Rangginang dari Cirebon. Dari semua bareng yang dijual hampir keseluruhan barang titipan dengan sistim titip jual. Jika kondisi barang sudah tidak layal jual biasanya didikeluarkan retur barang tanpa dipungut ongkos kirim. Barang yang diproduksi sendiri hanya gorengan tempe dan oncom, selebihnya barang titipan. Dengan demikian resiko rugi relatif kecil.
Usaha Wahab sedikit demi sedikit mulai berkembang. Meskipun keuntungan berjualan tidak begitu besar, sebagian dari keuntungan selalu disisihkan untuk tambahan modal. Alhamdulillah sekarang Wahab telah berhasil memiliki beberapa lapak di daerah Kosambi meskipun kecil-kecilan. Tahun 1995 Wahab membeli kios di lantai I pasar kosambi Bandung.
Selain memperluas tempat berjualan, kini, Wahab mampu menggaji para pegawainya dengan upah antara Rp. 150.000 s/d Rp. 250.000. Fasilitas lain yang diberikan berupa penginapan, jatah makan di rumah dan uang makan di tempat bekerja sebesar RP. 6000/hari. Mereka bekerja jam 06.00-17.30.
Para pembeli yang datang ke tempat Wahab berasal dari kota Bandung juga dari luar kota seperti : Jakarta, Palu, Maluku, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dll. Mereka cenderung menjadi pelanggan tetap.Untuk membina para pelanggan, Sami Rasa Milo senantiasa memelihara kualitas barangnya.
Untuk memulai suatu usaha dibutuhkan keberanian, keuletan dan menjaga kepercayaan orang. Itulah kiat usaha Wahab. “Saya berjualan bukan hanya untuk hari ini saja, tapi untuk jangka waktu yang panjang. Jika kita tidak dapat menjaga kepercayaan setiap pelanggan, jangan harap kita masih bisa berjualan esok hari “, tutur Wahab.
Bisnis bukanlah satu-satunya perhatian Wahab, keluargapun tidak luput dari perhatiannya. Dengan didampingi seorang istri dan enam orang anak, Wahab berupaya memberikan pendidikan yang layak bagi putera puterinya. Ini terbukti dengan keberhasilan anak-anaknya dalam pendidikan. Putera-puteri Wahab saat ini tengah mengenyam pendidikan di UNPAD, Politeknik ITB, SMA, SMP, SD dan TK. Bagi Wahab, anak harus berpendidikan lebih tinggi dibanding orang tua. Demikian Wahab menutup perbincangannya dengan SWA Bisnis.
|
|