Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

           
  SwaBisnis.Net     Profil     Toko Online     Iklan  
title.jpg (7832 bytes) http://www.swabisnis.8m.com iklan.gif (18869 bytes)


Edisi Khusus SMK

KONTAK BISNIS
LAPORAN UTAMA
IDE USAHA
TIP BISNIS
MARKETING
PROFIL EKSPORTIR
RAGAM

SEBAIKNYA ANDA TAHU
SEKS ANDA
HUMORIA

WAWANCARA
AGENDA

LINK KE :

DETIK
KONTAN
PRODUK UNGGULAN SMK

BURSA KERJA



KOPINKRA "SUGIH MUKTI", LAMPU HIAS
Berjaya di Saat Krisis


Profil EksportirSejarah Koperasi SUGIH MUKTI tidak terlepas dari peran Kamaludin sebagai pendiri dan ketua pengurus koperasi tersebut sejak berdiri hingga sekarang. Kamaludin adalah perintis perajin lampu hias di daerahnya, sekitar Babakan Ciparay, Bandung. Tahun 1967 hingga tahun 1978 merupakan masa-masa sulit bagi Kamaludin. Sebagai buruh pada perusahaan lampu hias milik seorang tauke, pendapatannya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Tanpa bayangan masa depan, baik bagi pendidikan anak-anaknya atau untuk hari tuanya, memacu Kamaludin untuk memperbaiki taraf hidupnya. Akhirnya tahun 1978, dengan berbekal tekad dan pengalaman, Kamaludin mencoba membuat lampu hias sendiri. Mula-mula hasil produksinya ia jual sendiri ke tetangga sekeliling rumah . Beberapa tetangga yang tertarik dengan usaha Kamaludin ikut memasarkan hasil produknya ke seluruh Kota Bandung dengan cara door to door. Tahun 1979, dengan semakin dikenalnya produksi lampu hias di masyarakat pesanan dari toko-toko mulai berdatangan. Untuk memenuhi order, Kamaludin merekrut tenaga kerja dari lingkungan setempat, terutama anak-anak yatim, piatu, dan anak-anak putuk sekolah dari keluarga yang kurang mampu, Melihat usaha lampu hias Kamaludin cukup berkembang, banyak tetangga yang ikut belajar dan mencoba membuat lampu hias. Potensi ini dimanfaatkan Kamaludin dengan medistribusikan order yang diterimanya kepada mereka., khususnya untuk pembuatan komponen-komponen lampu hias seperti rantai, tangkai lampu, pengecoran, pelapisan, dll. Dari tahun ke tahun pemasaran produk lampu hias semakin banyak. Daya jangkau pemasaran sampai ke Surabaya, Semarang dan Jakarta serta kota-kota kecil lainnya. Seiring dengan pertumbuhan pasar, perajin lampu hias juga semakin bertambah. Kemudian pada tanggal 31 Agustus 1981, para perajin sepakat untuk membuat Koperasi “Sugih Mukti” (KSM) dengan ketua Bapak Kamaludin. Sekarang anggota KSM berjumlah 92 perajin yang berproduksi berbagai macam kerajinan logam seperti : lampu hias, kursi dan hiasan dinding dari logam, alat-alat pertanian, dll. Domisili anggota tidak hanya di daerah rumah Kamaluddin tetapi menyebar sampai daerah Cipatat, Ciwidey, dll. Perkembangan Koperasi Untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan, KSM selalu mengirimkan anggotanya dalam pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta/yayasan. Tidak hanya pelatihan keterampilan teknis tapi juga pendidikan dan pelatihan administrasi, keuangan, dan pemasaran. Untuk mengembangkan koperasi, pengurus juga menekankan pada pemasaran dan memperluas hubungan. Sebanyak 40% dari seluruh anggota adalah tanaga pemasaran. Selain itu KSM juga sering mengikuti pameran-pameran untuk memperkenalkan produknya Usaha untuk mengembangkan pasar terus dilakukan. KSM mencoba mengirim beberapa pedagang ke luar P. Jawa. Penjualan dilakukan dengan cara door to door. Cara ini cukup efektif, dan KSM berhasil merebut pasar yang tadinya dikuasai pedagang-pedagang besar. Sekita tahun 1987 salah seorang pedagang yang dikirim ke luar Jawa mencoba untuk menyeberang perbatasan Malaysia dan menjajakan lampu hias itu disana.Ternyata produk lampu hias KSM ini banyak diminati di Malaysia. Sejak itu sampai sekarang KSM hampir setiap bulan mengekspor produknya ke Malaysia rata-rata sebanyak 3000 unit. Sebenarnya Ekspor KSM yang pertama adalah ke Belanda pada tahun 1987 sebanyak satu kontainer. Tahun lalu KSM juga pernah mencoba mengekspor ke Nigeria tapi hasilnya belum menggembirakan. Tahun 1987 para perajin lampu hias mengalami hambatan akibat sulitnyaa mendapatkan bahan baku aluminium. Karena langka, harga bahan baku melambung dari Rp. 900/kg menjadi Rp.5250. Saat itu para perajin khususnya yang memakai bahan baku alumunium = 95% gulung tikar. Penyebabnya ternyata bahan limbah diekspor dalam bentuk balok yang telah dicor. Untuk mengatasi kelangkaan bahan baku ini, Koperasi Sugih Mukti mengajukan usulan kepada Departemen Perindustrian dan Koperasi untuk mengatur tataniaga ekspor limbah alumunium. Keluhan dari kalangan industri kecil ditanggapi pemerintah dengan menerbitkan SK. Menkeu No. 752/KMK.01/1988 yang menetapkan pajak ekspor alumunium bekas sebesar 30%. KSM sendiri setiap harinya memerlukan limbah logam sebanyak 50 kg sehari. Limbah itu di suplai dari para pemulung. Untuk kebutuhan bahan baku ini KSM mendapat bantuan limbah logam dari Krakatau Steel dengan harga murah sebanyak 10 ton per bulan. Pangsa pasar produk KSM sebagian besar untuk ekspor. Malah beberapa tahun lalu pernah mencapi 90% produk diserap pasar luar negeri. Sekarang hanya sekitar 60% produk KSM yang diekspor, sisanya diserap pasar dalam negeri. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia, ternyata bagi perajin logam membawa berkah. Keuntungan yang mereka peroleh berlipat-lipat. Karena bahan baku yang limbah logam yang didapat dari pemulung, hasil produknya dijual dalam dolar. Sampai-sampai ada perajin semasa krisis mampu membeli mobil sebanyak 8 buah. Pembinaan & Prestasi Keberhasilan KSM mengembangkan usahanya berbuah pengharagaan. Pada April 1987 KSM mendapat penghargaan dari BID (Business Inettative Direction/International Gold Star for Quality) dari Madrid, Spanyol. Pada Oktober 1987 KSM mendapat kesempatan dari Departemen Perindustrian untuk mengikuti studi banding ke Jepang selama 40 hari. Dan akhirnya KSM meraih penghargaan tertinggi bidang industri di Indonesia, yaitu Upakarti jasa kepeloporan yang diterima langsung di Istana Negara. Tidak hanya itu, tahun 1991 KSM ditunjuk secara resmi sebagai Bapak Angkat dan mitra usaha bagi Industri kecil dan pengrajin besi. Hasil yang dicapai KSM selama ini,tidak terlepas dari bantuan pemerintah daerah, departemen terkait, maupun lembaga-lembaga swasta. Berkali-kali KSM mengikuti pelatihan untuk pengusaha kecil yang diadakan oleh Lembaga Manajemen FE unpad, Departemen Koperasi, dan Departeman Perindustrian. Dalam teknik pengecoran logam KSM pernah mendapat pelatihan pengembangan industri pengecoran logam yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian Logam dan Mesin. KSM juga mendapat pembinaan dari lembaga swasta seperti Yayasan Mandiri, Sucofindo, swiss Contact, Contrad Adenaur Stiftung dari Jerman terutama dalam manajemen dan teknik Industri. Selain mendapat pembinaan, KSM juga pernah mendapat bantuan modal dari Sucofindo pada tahun 1992 dalam jangka waktu 5 tahun. Kredit permodalan juga didapat tanpa proses yang berbelit-belit dari Bank HS 1906. Serta bantuan peralatan seperti mesin gurinda, mesin potong, mesing bubut, serta tungku untuk pengecoran dari PT PINDAD pada tahun 1992. Dengan bantuan peralatan ini, proses produksi yang tadinya secara manual dengan ditempa, menjadi lebih cepat, rapih, dan lebih bervariasi.

Rubrik lainnya..

IKLAN

iklan1.gif (1566 bytes)

iklan2.gif (1566 bytes)

iklan3.gif (1566 bytes)

iklan4.gif (1566 bytes)

iklan5.gif (1566 bytes)

Cari Artikel