Duit Duit Duit dan Duit
Dimana Peran SDM ?

Marketing Hampir 90% dari peserta training kewirausahaan, baik untuk calon pengusaha,
pemula maupun usaha kecil yang sudah berjalan, menyatakan bahwa modal (uang) menjadi
kendala pertama dan paling utama. Bahkan pada saat diskusi dan tanya jawab dalam satu
tarining kewirausahaan jika ada yang bertanya, penulis bisa memprediksi, pertanyaan lebih
banyak seputar modal. Tidak percaya? Ajukan pertanyaan kepada para penganggur di
lingkungan anda, mengapa mereka tidak berwirausaha? Dapat dipastikan, sebagian besar
jawaban adalah tidak punya modal (duit). Seolah-olah titik tumpu utama
keberhasilan wirausaha ada pada duit. Bahkan ada pemeo yang tumbuh di masyarakat
untuk mendapat duit harus dipancing dengan duit. Dimana letak kualitas SDM?
Dikepinggirkan, dinomor buncitkan. Apa akibat dari pradigma ini? Calon pengusaha dan atau
pengusaha pemula, pontang panting mencari modal. Pinjam kiri-kanan. Rayu sanak saudara dan
kawan. Jual barang, jual sawah, tanah dll demi modal. Adakah saudara dan kawan yang
meminjamkan duitnya? Ya, sebab merekapun berfikiran sama, sukses terletak pada modal. Ada
modal pasti sukses! Bagaimana kenyataannya? sanak dan saudara merasa tertipu. Diharapkan
duit yang dipinjamkan bertambah sesuai janji sang calon pengusaha, realitasnya Nol Besar,
jangankan untung, kembali ,modal saja sudah syukur. Hubungan kekeluargaan dan pertemanan
retak bahkan hancur berkeping-keping. Kejadian-kejadian demikian terus berulang.
Masyarakat tidak mau belajar, bahwa duit (modal) merupakan salah satu faktor keberhasilan
usaha. Bahkan satu-satunya faktor. Pakar manajemen bahkan menyatakan bahwa sumber daya
yang harus dikelola oleh para manajemer (juga pengusaha pemula, karena otomatis akan
merangkap sebagai manajer) banyak ragamnya seperti Man (manusia), Money (duit), Materials
(bahan-bahan baku), Machine (mesin), Methoda (cara-pola-kebijakan dll), Information
(informasi) dan Network (jaringan/koneksi) serta Time (waktu). Hampir 18 Triilyun rupiah
melalui 17 skim kredit disalurkan duit untuk modal kerja para pengusaha, terutama
pengusaha kecil (termasuk petani-peternak dllsb). Kebijakan pemerintah ini merupakan
kesempatan bagi pengusaha kecil untuk menyelematkan usahanya (survive) yang terhantam
badai krisis. Kredit bagi pengusaha harus dijadikan penopang. Ibarat sepeda anak-anak,
kredit adalah roda tambahan (kiri-kanan, roda belakang dan lebih kecil ketimbang roda
utama). Roda tambahan berfungsi untuk menjaga keseimbangan sang anak manakala bersepeda.
Bagaimana jika roda tambahan tidak dipasang?.. Resiko Jatuh menjadi lebih sering, tapi
tetap saja lambat laun si anak akan mampu juga bersepeda tanpa roda penyeimbang tambahan.
Bagaimana jika roda utama belakang tidak ada, yang ada hanya dua roda tambahan saja? Dapat
dipastikan sepeda tidak akan jalan. Demikian halnya dengan usaha. Roda utama yang
menjadikan berjalannya bisnis adalah sumber daya yang ada didalam perusahaan dan kemampuan
perusahaan untuk memanfaatkan sumber daya external (di luar perusahaan),seperti yang telah
disebutkan di atas. Kredit dapat memecahkan 1-2 masalah usaha, tidak semua masalah. Dan
tidak jarang, kredit bisa menimbulkan masalah baru. Tidak percaya? Lihat saja tindak para
pengusaha menengah, besar dan konglomerat yang tunggakan kreditnya ratusan trilyun rupiah
yang berhasil memporak porandakan sendi-sendi dunia bisnis di Indonesia dan menghasilkan
krisis kepanjangan saat ini? Kalau tadi disebut roda utama usaha merupakan serangkaian
sumber daya di dalam dan di luar perusahaan, maka poros (As) dari roda utama adalah SDM
(Sumber Daya Manusia). SDM perusahaanlah yang akan mengolah seluruh sumber daya lainnya.
Jika SDM perusahaan lemah, maka perkembangan usaha amat sangat terbatas. SDM yang lemah
tidak akan mampu membawa perusahaan untuk memenangkan kompetisi baik skala lokal, regional
apalagi global. Perusahaan dengan SDM lemh, cenderung menyalahkan situasi manakala
dihimpit kesulitan. Dan ironinya, misalnya pada saat krisis sekarang ini, justru biaya
peningkatan kualitas SDM (pelatihan-penarikan-studi banding-seminar) yang pertama-tama
dipangkas. Dalam keadaan normalpun (sebelum krisis), biaya peningkatan kualitas SDM
perusahaan ditekan sedemikian rupa. SDM perusahaan masih dianggap cost. Belum dianggap
sebagai investasi yang harus dikembangkan/dipertahankan kualitasnya dan masih jauh dari
harapan sebagai mitra yang harus dimuliakan. SDP (Skill Development Project), Proyek
Peningkatan Keterampilan karyawan Industri yang dibiayai oleh Bank Dunia sekalipun,
mentok. Tidak mampu mengubah culture dan kebiasaan para pengusaha di Jawa Barat yang
memperlakukan karyawan sebagai Cost perusahaan menjadi Investasi. Hanya karena
diiming-imingi subsidi World Bank sajalah para pengusaha besar mau mengikutsertakan
karyawannya dalam pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan SDP ( subsidi bisa mencapai 80%
dari biaya pelatihan). Dan lucunya bahkan ada pengusaha besar yang tidak mampu membayar
20% dari biaya peltihan yang tidak disubsidi dan menjadi kewajibannya. Wayoutnya adalah
biaya 20 % tersebut dibarter dengan makanan (nasi dan snack) serta tempat pelatihan
(tempat pelatihan di perusahaan ybs, dihitung sebagai penyertaan biaya). Memang ironis,
tapi itulah kenyataan yang ada.
Penyebab Penghormatan dan pemuliaan SDM yang minim, lebih banyak disebabkan oleh
banyaknya pelaku bisnis berpendidikan minim (dari 33 juta pengusaha di Indonesia hanya ±
1% saja yang berpendikan di atas SLTA). Bisnis menjadi alternatif kesekian di bawah
alternatif menjadi pekerja bagi lulusan lembaga pendidikan, sarjana misalnya. Sikap dan
cara pandang para sarjana masih berputar-putar pada : lulus lalu melamar jadi pegawai
negeri, atau BUMN, atau swasta besar. Jika tidak diterima, tunggu kesempatan berikutnya.
Jika masih juga tidak diterima, coba lagi dikesempatan berikutnya lagi, dan berikutnya
lagi dan berikutnya lagi. Demikian seterusnya hingga frustasi. Setelah frustasi baru
coba-coba berdagang. Peningkatan Kualitas SDM Agar anda, sebagai pengusaha mampu
meningkatkan kualitas SDM perusahaan maka yang pertama harus dilakukan adalah : anda harus
meningkatkan kualitas diri pribadi. Hadirilah seminar, bacalah buku, ikutlah
kelompok/group profesi atau asosiasi/himpunan. Selanjutnya, susun rencana peningkatan
kualitas SDM perusahaan anda. Kembangkan budaya kritis dan kreative. Selenggarakan
perpustakaan mini di kantor/perusahaan dan galakkan budaya membaca (membaca merupakan
proses pembelajaran yang murah meriah). Kembangkan hadiah/bonus tidak hanya berbentuk
duit, tapi juga buku. Dan berlakulah adil terhadap karyawan. Pengusaha yang adil cenderung
dicintai oleh karyawannya dan loyalitas dapat ditingkatkan melalui keadilan tersebut.
Demo-minimalis(bekerja sekadarnya)-barang reject yang melebihi standar-perlawanan
terselubung, merupakan indikasi persepsi adil belum tegak di perusahaan anda. Waspadai
ini.