Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

           
  SwaBisnis.Net     Profil     Toko Online     Iklan  

title.jpg (7832 bytes) http://www.swabisnis.8m.com

MEDIA WIRAUSAHA ONLINE iklan.gif (18869 bytes)


Edisi Khusus SMK

KONTAK BISNIS
LAPORAN UTAMA
IDE USAHA
TIP BISNIS
MARKETING
PROFIL EKSPORTIR
RAGAM

SEBAIKNYA ANDA TAHU
SEKS ANDA
HUMORIA

WAWANCARA
AGENDA

LINK KE:

DETIK
KONTAN
PRODUK UNGGULAN SMK

BURSA KERJA


Duit Duit Duit dan Duit
Dimana Peran SDM ?


Marketing Hampir 90% dari peserta training kewirausahaan, baik untuk calon pengusaha, pemula maupun usaha kecil yang sudah berjalan, menyatakan bahwa modal (uang) menjadi kendala pertama dan paling utama. Bahkan pada saat diskusi dan tanya jawab dalam satu tarining kewirausahaan jika ada yang bertanya, penulis bisa memprediksi, pertanyaan lebih banyak seputar modal. Tidak percaya? Ajukan pertanyaan kepada para penganggur di lingkungan anda, mengapa mereka tidak berwirausaha? Dapat dipastikan, sebagian besar jawaban adalah “tidak punya modal (duit)”. Seolah-olah titik tumpu utama keberhasilan wirausaha ada pada duit. Bahkan ada pemeo yang tumbuh di masyarakat “untuk mendapat duit harus dipancing dengan duit”. Dimana letak kualitas SDM? Dikepinggirkan, dinomor buncitkan. Apa akibat dari pradigma ini? Calon pengusaha dan atau pengusaha pemula, pontang panting mencari modal. Pinjam kiri-kanan. Rayu sanak saudara dan kawan. Jual barang, jual sawah, tanah dll demi modal. Adakah saudara dan kawan yang meminjamkan duitnya? Ya, sebab merekapun berfikiran sama, sukses terletak pada modal. Ada modal pasti sukses! Bagaimana kenyataannya? sanak dan saudara merasa tertipu. Diharapkan duit yang dipinjamkan bertambah sesuai janji sang calon pengusaha, realitasnya Nol Besar, jangankan untung, kembali ,modal saja sudah syukur. Hubungan kekeluargaan dan pertemanan retak bahkan hancur berkeping-keping. Kejadian-kejadian demikian terus berulang. Masyarakat tidak mau belajar, bahwa duit (modal) merupakan salah satu faktor keberhasilan usaha. Bahkan satu-satunya faktor. Pakar manajemen bahkan menyatakan bahwa sumber daya yang harus dikelola oleh para manajemer (juga pengusaha pemula, karena otomatis akan merangkap sebagai manajer) banyak ragamnya seperti Man (manusia), Money (duit), Materials (bahan-bahan baku), Machine (mesin), Methoda (cara-pola-kebijakan dll), Information (informasi) dan Network (jaringan/koneksi) serta Time (waktu). Hampir 18 Triilyun rupiah melalui 17 skim kredit disalurkan duit untuk modal kerja para pengusaha, terutama pengusaha kecil (termasuk petani-peternak dllsb). Kebijakan pemerintah ini merupakan kesempatan bagi pengusaha kecil untuk menyelematkan usahanya (survive) yang terhantam badai krisis. Kredit bagi pengusaha harus dijadikan penopang. Ibarat sepeda anak-anak, kredit adalah roda tambahan (kiri-kanan, roda belakang dan lebih kecil ketimbang roda utama). Roda tambahan berfungsi untuk menjaga keseimbangan sang anak manakala bersepeda. Bagaimana jika roda tambahan tidak dipasang?.. Resiko Jatuh menjadi lebih sering, tapi tetap saja lambat laun si anak akan mampu juga bersepeda tanpa roda penyeimbang tambahan. Bagaimana jika roda utama belakang tidak ada, yang ada hanya dua roda tambahan saja? Dapat dipastikan sepeda tidak akan jalan. Demikian halnya dengan usaha. Roda utama yang menjadikan berjalannya bisnis adalah sumber daya yang ada didalam perusahaan dan kemampuan perusahaan untuk memanfaatkan sumber daya external (di luar perusahaan),seperti yang telah disebutkan di atas. Kredit dapat memecahkan 1-2 masalah usaha, tidak semua masalah. Dan tidak jarang, kredit bisa menimbulkan masalah baru. Tidak percaya? Lihat saja tindak para pengusaha menengah, besar dan konglomerat yang tunggakan kreditnya ratusan trilyun rupiah yang berhasil memporak porandakan sendi-sendi dunia bisnis di Indonesia dan menghasilkan krisis kepanjangan saat ini? Kalau tadi disebut roda utama usaha merupakan serangkaian sumber daya di dalam dan di luar perusahaan, maka poros (As) dari roda utama adalah SDM (Sumber Daya Manusia). SDM perusahaanlah yang akan mengolah seluruh sumber daya lainnya. Jika SDM perusahaan lemah, maka perkembangan usaha amat sangat terbatas. SDM yang lemah tidak akan mampu membawa perusahaan untuk memenangkan kompetisi baik skala lokal, regional apalagi global. Perusahaan dengan SDM lemh, cenderung menyalahkan situasi manakala dihimpit kesulitan. Dan ironinya, misalnya pada saat krisis sekarang ini, justru biaya peningkatan kualitas SDM (pelatihan-penarikan-studi banding-seminar) yang pertama-tama dipangkas. Dalam keadaan normalpun (sebelum krisis), biaya peningkatan kualitas SDM perusahaan ditekan sedemikian rupa. SDM perusahaan masih dianggap cost. Belum dianggap sebagai investasi yang harus dikembangkan/dipertahankan kualitasnya dan masih jauh dari harapan sebagai mitra yang harus dimuliakan. SDP (Skill Development Project), Proyek Peningkatan Keterampilan karyawan Industri yang dibiayai oleh Bank Dunia sekalipun, mentok. Tidak mampu mengubah culture dan kebiasaan para pengusaha di Jawa Barat yang memperlakukan karyawan sebagai Cost perusahaan menjadi Investasi. Hanya karena diiming-imingi subsidi World Bank sajalah para pengusaha besar mau mengikutsertakan karyawannya dalam pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan SDP ( subsidi bisa mencapai 80% dari biaya pelatihan). Dan lucunya bahkan ada pengusaha besar yang tidak mampu membayar 20% dari biaya peltihan yang tidak disubsidi dan menjadi kewajibannya. Wayoutnya adalah biaya 20 % tersebut dibarter dengan makanan (nasi dan snack) serta tempat pelatihan (tempat pelatihan di perusahaan ybs, dihitung sebagai penyertaan biaya). Memang ironis, tapi itulah kenyataan yang ada.

Penyebab Penghormatan dan pemuliaan SDM yang minim, lebih banyak disebabkan oleh banyaknya pelaku bisnis berpendidikan minim (dari 33 juta pengusaha di Indonesia hanya ± 1% saja yang berpendikan di atas SLTA). Bisnis menjadi alternatif kesekian di bawah alternatif menjadi pekerja bagi lulusan lembaga pendidikan, sarjana misalnya. Sikap dan cara pandang para sarjana masih berputar-putar pada : lulus lalu melamar jadi pegawai negeri, atau BUMN, atau swasta besar. Jika tidak diterima, tunggu kesempatan berikutnya. Jika masih juga tidak diterima, coba lagi dikesempatan berikutnya lagi, dan berikutnya lagi dan berikutnya lagi. Demikian seterusnya hingga frustasi. Setelah frustasi baru coba-coba berdagang. Peningkatan Kualitas SDM Agar anda, sebagai pengusaha mampu meningkatkan kualitas SDM perusahaan maka yang pertama harus dilakukan adalah : anda harus meningkatkan kualitas diri pribadi. Hadirilah seminar, bacalah buku, ikutlah kelompok/group profesi atau asosiasi/himpunan. Selanjutnya, susun rencana peningkatan kualitas SDM perusahaan anda. Kembangkan budaya kritis dan kreative. Selenggarakan perpustakaan mini di kantor/perusahaan dan galakkan budaya membaca (membaca merupakan proses pembelajaran yang murah meriah). Kembangkan hadiah/bonus tidak hanya berbentuk duit, tapi juga buku. Dan berlakulah adil terhadap karyawan. Pengusaha yang adil cenderung dicintai oleh karyawannya dan loyalitas dapat ditingkatkan melalui keadilan tersebut. Demo-minimalis(bekerja sekadarnya)-barang reject yang melebihi standar-perlawanan terselubung, merupakan indikasi persepsi adil belum tegak di perusahaan anda. Waspadai ini.

Rubrik lainnya..

IKLAN

iklan1.gif (1566 bytes)

iklan2.gif (1566 bytes)

iklan3.gif (1566 bytes)

iklan4.gif (1566 bytes)

iklan5.gif (1566 bytes)

Cari Artikel