| SwaBisnis.Net | Profil | Toko Online | Iklan |
|---|
| MEDIA WIRAUSAHA ONLINE | ![]() |
|
|
Ibu Dapiah, Pemilik Toko Gasela Modal Kembali dalam Satu Tahun Laporan Khusus - Sesukses apapun usaha yang digeluti seseorang, setidaknya pernah mengalami pasang surut. Seperti halnya Ibu Ibu Dapiah, usaha berdagang makanan khas oleh-oleh Bandung. Pemilik toko Gasela ini, menggeluti usahanya baru satu tahun. Tapi meskipun sulit, menurut pengakuan ibu dua orang anak ini, modal awal untuk usaha sebesar 40 juta sudah kembali dalam setahun. Pasang surutnya suatu usaha, memang sudah menjadi resiko pengusaha, baik itu usaha besar maupun usaha kecil. Sekarang sedang sepi , aku ibu Dapiah kepada Swa Bisnis, saat ditanya berapa pendapatan setiap harinya. Toko Gasela yang berada di Leuwi panjang, dalam keadaan sepi memperoleh pendapatan (omzed Red) sekitar Rp.300.000,- hingga Rp. 400.000,- per hari. Bila hari minggu biasanya ramai, pendapatan Ibu bisa sampai 1 juta satu hari, ungkap Ibu Dapiah. Lebaran tahun inipun menurut Ibu Dapiah, penjualannya sepi. Padahal lebaran tahun yang lalu mah rame, ujarnya dengan logat sunda Garut. Sekarang mah cukup buat makan, lanjut Ibu Dapiah, yang asli Garut. Toko yang menjual oleh-oleh Bandung ini, setiap harinya menggoreng tempe sekitar 20 gebleg dengan minyak goreng 30 kg, minyak tanah 20 liter. Sedangkan tepung kanji dan tepung beras, masing-masing 50 kg. dan 10 kg. cukup untuk tiga hari. Makanan yang dijual di toko Gasela beraneka ragam, mulai dari tempe goreng, oncom goreng, kerupuk palembang, keripik ubi, peuyeum juga dodol garut yang beraneka rasa. Dodol saya beli dari Garut, keripik dari Cikijing, peuyeum dari Padalarang, ujar Ibu Dapiah, menjelaskan dari mana asal makanan tersebut. Makanan yang diolah sendiri hanya goreng oncom dan goreng tempe, sebab makanan inilah yang paling laku, barang kali karena bisa dicicipi langsung selagi masih hangat. Semua makanan memang laku, tapi goreng tempe dan goreng oncom yang paling laku, ungkapnya. Makanan yang dijual Ibu Dapiah, dibeli secara langsung, bukan sistim konsinyasi. Kalau makanan sudah terlalu lama, Ibu berikan pada siapa saja yang mau, tutur Ibu Dapiah, yang saat ini dibantu tiga orang pegawai. Sementara itu upah yang diberikan untuk tiap-tiap pegawai sebesar Rp. 200.000,- per bulan ditambah uang makan Rp. 7000,- per hari.
|
|
|